Daily Archives: 11/10/2022

Press Release Hasil Pemantauan Sampah Laut di Kota Balikpapan

Category : Uncategorized

Samarinda – Sampah plastik di perairan terutama di laut telah menjadi issue global, dimana semua negara menghadapi permasalahan terkontaminasinya biota perairan oleh limbah plastik. Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah Cina.

Pelaksanaan kegiatan pemantauan sampah pantai dilakukan pada 2 (dua) periode, yaitu pada bulan Maret dan Agustus 2022.   dengan mengambil lokasi pemantauan yaitu pantai Lamaru dan pantai Monpera Kota Balikpapan.

PANTAI LAMARU

Makro Debris

Jenis sampah makro yang ditemukan pada pantai Lamaru saat survey Periode 1 adalah Plastik, Busa Plastik, Kaca dan Keramik, Kertas dan Kardus, Kayu, dan Bahan Lainnya, sedangkan pada saat survey Periode 2 adalah Plastik, Kain, Karet, dan Bahan Lainnya.

Jumlah total sampah makro yang diperoleh di pantai Lamaru pada survey Periode 1 adalah sebesar 81 item dengan berat total 153.18 gr, dan pada survey Periode 2 adalah 75 item dengan total berat 364.2 gram.

Plastik merupakan jenis sampah makro yang paling dominan ditemukan di pantai Lamaru, baik dari faktor berat maupun jumlah, mencapai sekitar 90% pada survey Periode 1 dan sekitar 32% untuk berat dan sekitar 82% untuk jumlah pada survey Periode 2.


Sampah plastik makro pada setiap periode survei umumnya didominasi oleh sampah jenis PL06 (plastik wadah makanan dan minuman) dan PL07 (kantong plastik tipis dan plastik kemasan snacks ataupun minuman.  Jenis sampah lain yang ditemukan antara lain: OT02; PL0;; CL01; RB02. 

PL07 merupakan jenis plastic bening ataupun kemasan snacks yang tipis, sedangkan PL06 merupakan wadah makanan dan minuman yang terbuat dari plastic yang kaku, seperti plastic mika.  Jenis OT02 merupakan sampah dari alat kebersihan; umumnya berupa popok, cotton bud, dan sikat gigi.  PL01 merupakan sampah tutup botol, dan yang termasuk dalam CL01 antara lain berupa pakaian, sepatum topi, dan handuk. RB02 merupakan sampah karet berupa sol sandal maupun sepatu.

 

Mesa Debris

Jenis sampah meso yang ditemukan di lokasi transek pantai Lamaru pada survei Periode 1, yaitu Plastik, Busa Plastik, dan Kayu, sedangkan pada survei Periode 2 adalah Plastik, Kain, Kaca dan Keramik, Karet, dan Kayu.

Total jumlah sampah meso yang terkumpul di pantai Lamaru adalah 22 item dengan total berat 1.786 gram pada survei Periode 1 dan pada survei Periode 2 adalah sebanyak 41 item dengan total berat 5.27 gram. 

Komposisi jenis sampah meso di pantai Lamaru berdasarkan beratnya pada survei Periode 1 terdiri dari 50.4% Plastik, 48.7% Kayu, dan 0.01% Busa Plastik, sedangkan pada survei Periode 2 terdiri dari Karet 47.08%, Kaca dan Keramik 20.77%, Kayu 19.45%, Plastik 11.72%, dan Kain 0.99%.

Komposisi sampah berdasarkan jumlahnya terdiri dari Plastik 77.2%, Kayu 18.2%, dan Busa Plastik 4.54% pada survei Periode 1 dan pada survei Periode 2 terdiri  sampah Plastik (80.49%) diikuti oleh sampah Kain 12.20%.  Sampah Kaca dan Keramik, Kertas dan Kardus, Karet, serta Kayu masing masing 2.44%.

Total jumlah sampah Meso Plastik  yang terjaring pada survei Periode 1 adalah sebanyak 17 item dengan kelimpahan sebesar 0.68 item/m2, sedangkan meso sampah dari jenis Kayu ditemukan sebanyak 4 item dengan kelimpahan sebesar 0.16 item/m2, jenis Busa Plastik hanya ditemukan 1 item, dengan kelimpahan sebesar 0.04  item/m2.  Pada Periode 2 total jumlah sampah meso Plastik adalah sebanyak 33 item dengan kelimpahan 1.32 item/m2.  Jenis sampah lainnya dari jenis sampah Kain yang ditemukan adalah sebanyak 5 item dengan kelimpahan 0.20 item/m2, sementara sampah Kaca dan Keramik hanya ditemukan 1 item, begitupula dengan sampah Karet dan Kayu yang masing 1 item dengan kelimpahan 0.04 item/m2. 

Jenis Plastik dengan spesifikasi PL21 merupakan sampah plastik meso yang paling banyak ditemukan di pantai Lamaru pada survei Periode 1, yaitu sebanyak 5 item dengan kelimpahan  0.2 item/m2.  Klasifikasi sampah yang termasuk dalam PL 21 adalah berupa tali/pita plastik.  Sampah dengan spesifikasi PL11, PL 16, dan WD06 berada diurutan kedua dengan jumlah sampah masing masing sebesar 4 item dengan kelimpahan 0.16 item/m2.   Spesifikasi sampah meso PL20 berupa jaring/jala ikan berada diurutan ketiga dengan jumlah sampah 2 item dengan kelimpahan 0.008 item/m2.

Pada survei Periode 2, meso sampah yang paling dominan ditemukan adalah PL07, yaitu sebanyak 14 item dengan kelimpahan 0.56 item/m2.  Sampah PL24 ditemukan sebanyak 9 item dengan kelimpahan sebesar 0.36 item/m2.  Sampah PL16 juga ditemukan sebanyak 8 item dengan kelimpahan sebesar 0.32 item/m2, sedangkan CL04 ditemukan sebanyak 3 item dengan kelimpahan sebesar 0.12 item/m2.   Sampah lain, seperti  PL06, PL20, CL01, CL06, GC07, RB05, dan WD06 hanya ditemukan 1 item, dengan masing masing kelimpahan sebesar 0.04 item/m2.

 

PANTAI MONPERA

 

Makro Debris

Jenis sampah  makro yang ditemukan pada pantai Monpera saat survey periode 1 adalah Plastik, Busa Plastik, Kain,  Kaca dan Keramik, Logam, Kertas dan Kardus, Karet, Kayu, dan Bahan Lainnya.  Jumlah total sampah makro yang diperoleh di pantai Monpera pada survei Periode 1  adalah sebanyak 184 item dengan berat total 3132 gram.  Sedangkan pada survei Periode 2 jenis sampah makro yang ditemukan adalah sampah Kaca dan Keramik, sampah Plastik, Kain, Karet, Busa Plastik, Logam, Kayu, dan Bahan Lainnya. Jumlah total sampah makro yang diperoleh di pantai Monpera pada survei Periode 2 adalah sebanyak 94 item dengan total berat 2097.5 gram.

Berdasarkan berat sampah makro, Kaca dan Keramik merupakan jenis sampah yang dominan di pantai Monpera pada survei Periode 1 dengan persentase 49.7% dikuti oleh jenis Bahan Lainnya sebesar 24%, Busa Plastik 9.2% dan Plastik 8.8%.   Pada survei Periode 2, sampah Kayu menduduki posisi pertama dengan persentase sebesar 36%, kemudian diikuti oleh sampah Kaca dan Keramik sebesar 27%, Kain sebesar 26%, sampah Plastik sebesar 8%.

Jika berdasarkan jumlah, maka sampah makro yang paling dominan di pantai Monpera pada survei Periode 1 adalah sampah Plastik dengan persentase sebesar 44.6%.    Jenis sampah Kaca dan Keramik menempati urutan kedua dengan persentase sebesar 35.9%. Pada survei Periode 2, sampah makro yang paling dominan adalah sampah Kaca dan Keramik sebesar 60.6% dan diikuti oleh sampah Plastik sebesar 29.8%, selebihnya terbagi merata pada jenis sampah lainnya.

Meso Debris

Jenis sampah meso yang ditemukan di pantai Monpera pada survei Periode 1 adalah Plastik, Kaca dan Keramik, Logam, Kertas dan Kardus, dan Bahan Lainnya.  Secara keseluruhan total sampah meso yang tersaring sebanyak 81 item dengan total berat 153.53 gram.  Pada survei Periode 2 jenis sampah meso yang ditemukan adalah Plastik, Kaca dan Keramik, dan Logam, dengan total sampah meso yang tersaring adalah sebanyak 98 item dengan total berat 119.6 gram.

Berdasarkan beratnya, komposisi sampah meso di pantai Monpera pada survei Periode 1 terdiri dari Kaca dan Keramik 98.38%, Plastik 1.31%, Bahan Lainnya 0.28%, Kertas dan Kardus 0.02%, dan Logam 0.01%.  Pada survei Periode 2, komposisi sampah meso masih didominasi oleh Kaca dan Keramik dengan persentasi mendekati 100%.

Jika berdasarkan jumlahnya, maka komposisi sampah meso pada survei Periode 1 terdiri dari Kaca dan Keramik 70.4%, Plastik 20.99%, Logam 6.12%, Kertas dan Kardus 1.23%, dan Bahan Lainnya 1.23%.  Sedangkan pada survei Periode 2 diperoleh

komposisi sampah meso terdiri atas Kaca dan Keramik 97%, sampah Pastik 2%, Logam 1%.

Pada survei Periode 1, ditemukan sampah Kaca dan Keramik di pantai Monpera sebanyak 57 item dengan kelimpahan 2.28 item/m2.  Sampah Plastik meso yang terkumpul sebanyak 17 item dengan kelimpahan 0.68 item/m2.  Sementara untuk Logam, ditemukan sebanyak 10 item dengan kelimpahan 0.2 item/m2.  Sampah meso Kertas dan Kardus, serta Bahan Lainnya ditemukan masing-masing 1 item saja dengan kelimpahan 004 item/m2. Pada Periode 2, jenis sampah meso yang terbanyak ditemukan  adalah dari Kaca dan Keramik, yaitu sebanyak 95 item dengan berat 119.19 gram dan dengan kelimpahan sebesar 3.8 item/m2.  Meso Plastik hanya ditemukan sebanyak 2 item dengan kelimpahan sebesar 0.08 item/m2.  Meso logam juga hanya ditemukan 1 item dengan kelimpahan sebesar 0.04 item/m2.

Secara spesifik, sampah meso yang paling banyak diperoleh di pantai Monpera adalah dari GC07.  Pada survei Periode 1 sampah meso yang berkoleksi yaitu sebanyak 57 item dengan kelimpahan 2.28 item/m2, diikuti oleh PL24 sebanyak 9 item dengan kelimpahan 0.36 item/m2.  Sampah meso PL11 dan ME09 masing masing ditemukan sebanyak 5 item dengan kelimpahan 0.20 item/m2. Pada Periode 2, ditemukan juga sampah PL04, PL24, dan ME10 masing masing sebanyak 1 item dengan kelimpahan 0.04 item/m2.

GC07 merupakan potongan kaca maupun keramik, sedangkan PL24 merupakan potongan plastic yang tidak dapat diidentifikasi bentuk asalnya serta jenis plastiknya tidak terdapat dalam list sampah plastic.   Sampah dengan spesifikasi PL 11 merupakan potongan punting rokok, sedangkan ME09 merupakan potongan kawat.

(PPID DLH Prov. Kaltim)


Presentasi Laporan Hasil Pemantauan Sampah di Pantai Kota Balikpapan

Category : Uncategorized

 

Samarinda – Sampah plastik dan midroplastik di wilayah perairan telah menimbulkan berbagai permasalahan yang kompleks berdampak terhadap berbagai spesies organisme, termasuk pada ikan-ikan yang ditujukan untuk konsumsi manusia, sehingga pada akhirnya berdampak terhadap kesehatan manusia dan kualitas hidup masyarakat.

 

“Untuk itu, bersama Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman,  Dimnas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur telah melaksanakan pemantauan sampah di pesisir dan laut di pantai-pantai Kota Balikpapan” tutur Sekretaris Dinas Ayi Hikmat saat didaulat membuka kegiatan.

 

Dipaparkan oleh Ayi, dalam rangka persiapan Kalimantan Timur sebagai daerah penyangga IKN, maka kegiatan pemantauan sampah pesisir untuk tahun 2023 akan diselenggarakan juga di Kabupaten Penajam Paser Utara.

 

“Mengingat saat ini masih terbatas data terkait pemantauan kualitas lingkungan di sekitar IKN, sehingga data yang dihasilkan nantinya akan menjadi informasi awal terkait keberadaan sampah plastik di pesisir dan perairan laut di Kaltim” lanjutnya.

 

Menurut INAPLAS dan BPS, sampah plastik Indonesia mencapai 64 juta ton per hari.   Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Selain itu, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

 

 

“Seiring dengan meningkatnya populasi penduduk di Kalimantan Timur (Kaltim) maka kebutuhan hidup penduduk Kaltim semakin meningkat pula sehingga produksi sampah/limbah juga meningkat yang pada akhirnya meningkatkan potensi pencemaran di perairan termasuk pesisir” tutur Ayi. 

 

Pada 2015 Kaltim menghasilkan 654.310 ton sampah, sedangkan pada tahun 2016 volume sampah mencapai 683.295 ton, kemudian di tahun 2017 produksi sampah meningkat  menjadi 730.876 ton dan tahun 2018 menghasilkan 832.032,1 ton sampah yang dalam sehari bisa mencapai 2.279,54 ton. 

 

Dijelaskan oleh beliau, meskipun telah dilakukan upaya penanganan/pengelolaan sampah akan tetapi usaha ini masih belum signifikan dalam upaya mengurangi sampah di Kaltim. 

 

“Tetapi paling tidak upaya penanganan yang telah dilakukan berhasil menekan peningkatan volume sampah di Kaltim.  Hal ini terlihat pada Tahun 2021 volume sampah Kaltim mencapai 725.412,65 ton atau 1.987,43 ton per hari, dimana lebih rendah dari sampah yang dihasilkan pada Tahun 2017” papar beliau.

 

Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kaltim pada pada beberapa tahun terakhir juga semakin berupaya untuk mengurangi volume sampah melalui berbagai macam program seperti program 3R (”Reduce, Reuse, Recycle”), dan mulai melakukan pengumpulan data terhadap sampah yang masuk ke laut. 

 

Dimana sampah yang ada di laut sebagian besar berasal dari aktivitas manusia di daratan, yang masuk ke perairan laut melalui sistem aliran sungai yang bermuara, di samping aktivitas manusia di laut itu sendiri.  Melalui aliran massa air (arus) dan proses pasang surut air laut, maka sampah di laut berpotensi sampai ke pantai.

 

Dalam kegiatan pendataan terkait sampah pantai maka pada Tahun 2022, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kaltim bersama Tim Peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman (FPIK UNMUL) yang diketua oleh ibu Ghitarina bersama Anggota Tim Ristiana Eryati, Moh. Mustakim, dan Akhmad Rafii melakukan kegiatan pemantauan sampah pantai yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik sampah laut yang terperangkap di garis pantai dengan cara menganalisa jenis, jumlah, komposisi, dan kelimpahan sampahnya.

 

(PPID DLH Prov. Kaltim)